Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
[Adz-Dzaariyat (51) ayat: 56]
Mulailah dengan kesadaran bahwa kehadiran Anda di kehidupan ini PASTI untuk sesuatu yang penting.
[Mario Teguh]

Pemimpin Negara yang Telat Gaul

Pemimpin negara yang rakyatnya sering cetak "trending topic" (akhirnya) punya akun twitter. "Artis-artis twitter" Indonesia harus menepi dulu, Pak @SBYudhoyono mau lewat. (ilustrasi: merdeka.com)

"Shortcut" Pemenuhan Keinginan

Masih saja ada orang yang ingin penuhi hasrat keinginan duniawi melalui cara instan lewat praktik perdukunan berbalut guru spiritual di negeri yang gila hi-tech/gadget seperti ini. (foto: Shutterstock)

Perhatian di Tiap Malam Jelang Akhir Pekan

Telah menjadi pusat perhatian pemirsa di tiap Jumat malam. X Factor Indonesia mencetak ulang konstruksi idola melalui ajang yang katanya bukan hanya "singing competition". (foto: dusunblog.com)

Kenapa Perlu Giat 'Bikin' Film?

Janganlah dahulu menanyakan "Bagaimana", tanpa terjawab sebelumnya, "Mengapa" atau "Kenapa perlu/harus". Lalu "What for?" "Emang dengan banyak orang bikin film, so what?". (ilustrasi: net)

Cari yang Cocok, Jangan Cuma Cuco'

Tidak mutlak nyatanya jika pria itu menyukai wanita dengan tubuh yang aduhai dan wajah yang cantik jelita. Ada hal lain pada diri wanita yang membuat pria tertarik. (foto: Reuters)

Senin, 16 Agustus 2010

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

************ ********* ********* ********* *********

Di bulan puasa ini, sering kita
dengar kalimat 'Berbuka puasalah dengan makanan atau
minuman yang manis,' katanya. Konon, itu dicontohkan
Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah
berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum
shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka
dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma
kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan
Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah
satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma.
Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah
dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak
mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air.
Samakah kurma dengan 'yang manis-manis'? Tidak. Kurma,
adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) .
Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau
minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi
sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat
sederhana (simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang
manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum
di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan
makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'.
Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka
puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan
gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa
berbuka puasa 'disunnahkan' minum atau makan yang
manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah
mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih,
bukan yang manis-manis.

Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis.
Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat
tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak
menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma
yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di
bulan Ramadhan sudah berupa 'manisan kurma', bukan
lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah
kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet
dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita
menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa
manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi
sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak
kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma,
sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah
karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat
sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi
glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu.
Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula
darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak
sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli,
naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI)
saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan
makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi
glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu
dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin
cepat pula menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat,
akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks
glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan
makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena
makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin
menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang
paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung
dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat
tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon insulin
dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh
akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang
sufi yang diberi Allah 'ilm tentang urusan kesehatan
jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan
makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu
sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti
biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena
merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma
yang ada di Indonesia adalah 'manisan kurma', bukan
kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh
berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.
Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga
respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena
respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh
untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa
yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah
penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha,
belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena
langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui
makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak,
padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah
makin terlihat seperti 'buah pir', penuh lemak di
daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang
mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah
'sunnah', maka puasa bukannya malah menyehatkan kita.
Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas,
mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan
gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka
efeknya 'rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.'


*disalin dari sebuah milis

Sabtu, 19 Juni 2010

Film Pengalaman Pertama



Apaan nih?

Ternyata begini rasanya membuat film. Ya, inilah untuk kali pertama saya mengecap rasa produksi karya audio visual. Dilatarbelakangi workshop film yang diadakan Cinematography Club Fikom Unpad sebagai mekanisme penerimaan anggota, saya dan beberapa rekan yang sama-sama "newbie" dapat menyelesaikan film ini. Film pertama yang kalau dibandingkan dengan film pertamanya Riri Riza -bisa langsung dapet penghargaan di festival film luar negeri- tentu sangat jauh. Walaupun begitu, Inilah sensasi awal yang merangsang saya membuat film lagi lalu ketagihan lagi dan lagi. Keinginan untuk terus menghasilkan karya yang lebih baik pun terus menggelora.
Saya bahagia telah merasakan pengalaman pertama ini.
Melihat kualitasnya yang "baru" seperti ini, memicu saya untuk lebih belajar lagi.

Jumat, 21 Mei 2010

Ditikam Pernyataan

"Memang lidah tak bertulang" dan mungkin kini ditambah "tak ada yang menghalangimu untuk menulis". Mungkin selain besar kamauan atau keinginannya, kita ini sebagai homo sapiens juga besar ngomongnya (baik itu lisan maupun tulisan tentunya). Apakah itu pembawaan "dari sananya" sehingga kita mengeluarkan pernyataan seakan tanpa ada kendali. Tidak dapat digeneralisasi memang, toh ada juga orang yang irit bicara.

Tak seperti monyet, burung, keledai, anjing, dan sebagainya yang kita jumpai di kebun binatang atau di habitatnya langsung, ungkapan atau pernyataan kita itu tidak hanya mewakili rasa lapar, marah, mengancam, puas, atau ereksi, tetapi lebih dari itu. Pernyataan kita mewakili (merepresentasikan) siapa kita: dalam atau dangkalnya "otak" kita, tinggi atau rendahnya martabat kita, seorang yang konsekuen atau pembualnya diri kita dalam hal kesesuaian ucap dan sikap.

Dapatkah "pernyataan" itu diklasifikasikan sebagai benda gaib karena tidak terlihat wujudnya? Yang pasti ada atau tidak adanya wujud dari "pernyataan" itu sendiri, efeknya akan selalu ada sebagaimana teori komunikasi, who says what, to whom, in which channel, with what effect. Membesarkan atau mengerdilkan orang lain, menyenangkan atau menyakitkan orang lain, memberi manfaat atau mudharat bagi orang lain, Kesemuanya potensial. Selain effek hasil respon orang lain macam itu, seperti yang diungkap diatas, "pernyataan" pun bisa diibaratkan pembunuh bayaran sikopat yang kita bayar yang tiba-tiba membalikkan badan dan menyerang kita. Saat kita telah ditikam, berarti kita sudah tergolong pengkhianat (pengingkar janji), pembual, atau si Omong Besar aka si Omong Doang.

Sebagaimana kamaluan yang harus kita jaga, "Pernyataan" harus dijaga ekstraketat. Tak sedikit masalah di dunia ini timbul karena begitu liar tak terkendalinya "Pernyataan" dari makhluk yang katanya berakal ini. Sebagai konsekuensi dari berdayanya pikiran dan tenaga kita untuk "menyatakan" dan bertindak (membuktikan), segala hal yang bersumber dari kita, baik pernyataan maupun perbuatan niscaya akan dipertanggungjawabkan kepada yang telah memberi kita daya, untuk berpikir, berbuat, dan bicara (mengeluarkan pernyataan).

Kamis, 15 April 2010

Melayang-Layang

..........................................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
........................................................................................................................................
.................................................................................................................................
..........................................................................................................................
...................................................................................................................
............................................................................................................
......................................................................................................
..........................................................................................................................................................................................
....................................................................................
.............................................................................
.......................................................................
..................................................................
.............................................................
.......................................................
.................................................
............................................
........................................
...................................
...............................
...........................
........................
....................
................
............
.........
......
....
..
.
Begitu rasanya tanpa pijakan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More