Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
[Adz-Dzaariyat (51) ayat: 56]
Mulailah dengan kesadaran bahwa kehadiran Anda di kehidupan ini PASTI untuk sesuatu yang penting.
[Mario Teguh]

Pemimpin Negara yang Telat Gaul

Pemimpin negara yang rakyatnya sering cetak "trending topic" (akhirnya) punya akun twitter. "Artis-artis twitter" Indonesia harus menepi dulu, Pak @SBYudhoyono mau lewat. (ilustrasi: merdeka.com)

"Shortcut" Pemenuhan Keinginan

Masih saja ada orang yang ingin penuhi hasrat keinginan duniawi melalui cara instan lewat praktik perdukunan berbalut guru spiritual di negeri yang gila hi-tech/gadget seperti ini. (foto: Shutterstock)

Perhatian di Tiap Malam Jelang Akhir Pekan

Telah menjadi pusat perhatian pemirsa di tiap Jumat malam. X Factor Indonesia mencetak ulang konstruksi idola melalui ajang yang katanya bukan hanya "singing competition". (foto: dusunblog.com)

Kenapa Perlu Giat 'Bikin' Film?

Janganlah dahulu menanyakan "Bagaimana", tanpa terjawab sebelumnya, "Mengapa" atau "Kenapa perlu/harus". Lalu "What for?" "Emang dengan banyak orang bikin film, so what?". (ilustrasi: net)

Cari yang Cocok, Jangan Cuma Cuco'

Tidak mutlak nyatanya jika pria itu menyukai wanita dengan tubuh yang aduhai dan wajah yang cantik jelita. Ada hal lain pada diri wanita yang membuat pria tertarik. (foto: Reuters)

Selasa, 19 Juli 2011

Korupsi

PUSING memikirkan mengapa negara ini menjadi salah satu negara dengan indeks korupsi yang tinggi?
Inilah salah satu penjelasan yang paling masuk akal. Logis dan empiris sekaligus.

Anda yang pernah mebaca tentang seven habits mungkin masih ingat bahwa setiap huruf memiliki nilai sebagai berikut:

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26

Mari kita hitung nilai huruf di atas dengan bahasa Inggris. Bila kita bekerja dengan modal atau nilai total huruf tersebut di atas, maka hasilnya adalah…

H A R D W O R K (Kerja keras)8+1+18+4+23+15+18+11 = 98% only

K N O W L E D G E (Pengetahuan)
11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96% only

L O B B Y I N G (Pendekatan)
12+15+2+2+25+9+14+7 = 86% only

L U C K Y (Keberuntungan)
12+21+3+11+25 = 72% only

Ternyata semua nilai usaha kita di atas nggak bisa mengalahkan yang satu ini:

A T T I T U D E (Sikap)
1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%

Nah, rumus ini hanya berlaku di luar negeri.

Bila dibawa ke Indonesia, maka hitungannya jadi seperti ini:

G I G I H (Hardwork)
7+9+7+9+8 = 40% saja

I L M U (Knowledge)
9+12+13+21 = 55% saja

L O B B I (Lobbying)
12+15+2+2+9 = 40% saja

M U J U R (Lucky)
13+21+10+21+18 = 83% saja

S I K A P (Attitude)
19+9+11+1+16 = 46% saja

Kecuali, kalau Anda melakukan yang ini:

K O R U P S I (Corruption)
11+15+18+21+16+19+9 = 109%

Nah, disinilah hebatnya! Ini pula yang menjadi kunci di balik praktik korupsi di Indonesia.
 **?

Teguh Abdullah

Senin, 13 Juni 2011

Sebuah Jalan untuk Mengenang: Satu dari Sedikit Film Tragis dari Amerika yang Menjaga Virginitas

"There's a song that's inside of my soul

It's the one that I've tried to write-over-and-over-again
I'm awake in the in-finite cold
But you sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray, to be only yours-
I pray, to be only yours-
I know now, you're my-
Only hope
..."
Sejak masa teenlit, lagu yang merupakan soundtrack dari film A Walk To Remember ini sudah terngiang-ngiang, melekat dalam ingatan dan menyentuh perasaan. Mungkin hal itu karena ada kedekatan psikologis. Saya tidak akan curcol di sini. Jujur, filmnya sendiri -setelah cukup fenomenal sejak dirilis tahun 2002 dan sering menjadi perbincangan di antara teman-teman- baru saya tonton belum lama ini. Dan rasanya... Ouw!

Teman saya membahasakannya "kesemsem". Saya terdorong (lagi) menonton A Walk To Remember atas rekomendasi teman saya tersebut setelah dia saya tanya film romantis yang perlu saya tonton. Dulu banyak teman yang cerita soal pengalamannya menonton film ini tapi saat itu saya tidak tergoda. Hanya kali ini, karena ada motif mau membuat film soal cinta, saya pun meluangkan waktu melahap film yang dibintangi 'si manis' Mandy Moore dan Shane West beserta lagu-lagu manis yang mengiringinya. Akhirnya saya berhasil menyaksikannya hingga usai. Impresi yang tertinggal atas film dengan lagu-lagu "menyayat hati" ini mendorong saya untuk mengulasnya, padahal awalnya tidak ada ekspektasi berlebih untuk karya gambar bergerak ini.


Secara cerita, sedari awal sudah bersiap, film dengan mengangkat kisah cinta antara pria yang punya kehidupan liar dan  wanita tertutup yang akhirnya menunjukkan kecantikannya adalah sesuatu yang bisa dianggap biasa atau klise. Seperti kisah Betty La Vea, dimana si pria populer terpikat oleh wanita yang "sebenarnya" cantik. Namun ternyata, penuturan cerita dalam A Walk To Remember berbeda.

Tidak ada "embel-embel" sesuatu yang besar ataupun isu berat yang jadi artifisial dalam A Walk To Remember. Tidak seperti Titanic yang bersetting kapal pesiar terdahsyat di masanya, Romeo-Juliet yang merupakan karya sastra yang sudah melegenda dari William Shakespeare, atau seperti Head in The Clouds yang berlatar perang sebagaimana Cold Mountain dan Pearl Harbour yang ditunjang visual ciamik.

Film yang diangkat dari novel karya Nicholas Sparks benar-benar mengandalkan cerita dan terlebih lagunya. Tak aneh bila dalam kacamata kritikus, film ini sangat tidak luar biasa dan justru membosankan, tidak seperti The Notebook yang dianggap lebih berkualitas. Bahkan Peter Bradshaw dari Guardian (UK) (dikutip dari http://rottentomatoes.com/) menyebut, "This horrific teen romance-cum-weepie is best watched from between your fingers, or from under your seat, or perhaps standing outside the cinema looking in the opposite direction." Walaupun begitu, mungkin karena kesederhanaannya, banyak orang tetap tersentuh oleh A Walk To Remember. Inilah film yang ringan tapi menusuk.

Dalam A Walk To Remember, tak ada special affect, visual effect, dan tidak ada sex scene. Mungkin karena itu, anggapan film ini boring muncul. 'Tidak ada sex scene' bisa menjadi sesuatu yang perlu digarisbawahi. Seperti yang kita tahu, kecenderungan film drama-romantis dari Barat khususnya Amerika, bumbu sex dianggap sesuatu yang perlu ditambahkan. Kalaupun tidak ada adegan intimnya, diceritakan si tokoh adalah seseorang yang pernah punya kekasih dan sudah tidak virgin lagi. Di sana, virginitas bukan sesuatu yang perlu diperbincangkan lagi. Telah usai di balik dalih kebebasan. Melalui film, pasti pandangan tersebut disebarkan ke seantero dunia. Apabila Anda berpikiran serupa (tidak ada pentingnya menjaga virginitas sebelum pernikahan), mungkin Anda sudah termakan film-film yang secara tidak langsung menyuarakan hal itu.

Isu tersebut yang saya rasa tak hinggap dalam film arahan Adam Shankman ini. Subjektivitas itu yang membuat saya jadi lebih-dan-lebih-lagi menyukai A Walk To Remember, bahkan beberapa hari setelahnya masih tergila-gila dengan seluruh aspek di dalamnya (kepolosan ceritanya, tokohnya-khususnya kecantikan Jamie Sullivan-, dan soundtrack-nya). Film ini berhasil menyelinap masuk ke hati di tengah benteng pikiran yang penuh hal-hal yang bisa dianggap berat.

Sex scene tidak divisualkan dalam A Walk To Remember. Ya, walaupun adegan berciuman masih menghiasi film ini. Setidaknya film ini lebih mengarahkan bentuk cinta dan kasih sayang yang dalam, serta tak berpihak pada materialisme. Hal tersebut dibuktikan dengan tokoh Landon Carter yang tidak memerdulikan pandangan teman-teman sepermainannya dan tetap mengajak menikah Jamie Sullivan padahal ia tahu wanita yang dicintainya itu takkan lama bersamanya. Tipikal kisah romansa memang.

Selain itu, visualisasi tangis kesedihan dimunculkan secara proposional, di antaranya saat Jamie memberita tahu apa yang dideritanya pada Landon dan saat Landon berpelukan untuk berterima kasih kepada ayah yang selama ini tidak dipedulikannya. Malah, kepergian Jamie hanya disampaikan secara verbal (voice over Landon) dan tidak nampak tangis air mata di sana kecuali ekspresi rasa rindu Landon yang dimunculkan di akhir adegan. Semakin menyayatlah A Walk To Remember karena lagu-lagunya yang -beberapa di antaranya dinyanyikan Mandy Moore- begitu melankolis. Jadilah drama ini menjadi sebuah melodrama yang ringan tapi menyakitkan, tenang tapi menghanyutkan.
Di samping itu, perlu diakui A Walk To Remember tidak masuk kategori sempurna. Masih ada cela di beberapa hal dan bagian. Tentu di antaranya soal bagian cerita dan penyampaiannya. Terlebih, film ini seakan terjebak (entah dapat disebut seperti itu atau tidak) pada suatu kebakuan/kebiasaan/kecenderungan: Film romantis itu mengandung cerita tragis, lagu melankolis, dan akhir ceritanya optimistis. Apakah itu sudah merupakan form (kaidah)-nya atau hanya formula (gaya) semata dalam menghasilkan karya film. (Perbedaan keduanya akan diulas dalam post berikutnya tentang bincang singkat bersama Salman Aristo)

Kita bisa mengenang Ada Apa Dengan Cinta dimana di sana ketragisannya yaitu Cinta yang harus ditinggalkan Rangga, lagunya tidak diragukan lagi kemeloannya atas garapan Melly Goeslaw, dan akhir cerita menunjukkan optimisme Cinta untuk dapat bertemu kembali dengan Rangga. Atau contoh lainnya (yang secara tidak sadar pernah membuat mata meneteskan air) yaitu Alexandria. Tiga unsur tersebut melekat pula. Ada sisi tragis (pikawatireun, bahasa Sunda yang artinya menyedihkan dalam Bahasa Indonesia), lagunya melankolis banget (garapan Peterpan), dan tetap diakhiri sebuah optimisme. Sebelum itupun, kisah yang setipe dengannya (cinta segitiga) dalam Wicker Park, cukup membuat terenyuh. Dan mungkin masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya yang belum saya tonton.

Apabila memang itu sebuah kaidah dalam membuat sebuah drama-romantis, urusan saya untuk membuat film yang bergenre tersebut tidak akan menemukan tantangan yang terlalu besar. Tinggal garap cerita yang ada nilai ketragisan, cari musisi yang bisa bikin lagu melow, dan tak lupa akhir ceritanya tetap tampilkan optimisme. Jatuhnya bisa jadi klise.

Entahlah. Referensi saya dalam film drama-romantis masih cetek dan rata-rata ya begitu-begitu saja. Ada kekhawatiran bila itu semakin ditegaskan (dalam film), orang-orang yang menonton filmnya nanti -bila dalam romansa cintanya tidak ada sesuatu yang tragis, tidak ada lagu melankolis yang melekat,dan mungkin tidak muncul optimisme sama sekali- akan merasa kisah hidupnya tidak romantis. Ibarat terbentuk standar romantisme dalam cinta.

Kalau memang begitu, romansa cinta memang terkadang membuat perih, saat kita terhanyut.

Sabtu, 09 April 2011

Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,anak-anak tak bisabersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.
Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan
Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah
paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena
majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi .
Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
 jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
 Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah
dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali
perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
 Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga,
orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan
diam-diam berharap semoga kita
mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu
kosen, tiang,kasau,
jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
 Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,
televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka.
"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.
Mereka menangkapku.
"Ambil bensin!" teriak seseorang.
"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.


oleh Taufik Ismail

11 Super Paradox

Paradox adalah sebuah ketidak-sinambungan, sesuatu yang tidak melanjutkan dan bahkan sering bertentangan dengan logika umum, tetapi sangat benar. [Mario Teguh]

1. Semakin Anda merasa aman, semakin Anda berani mengambil resiko.
Padahal, semakin aman keadaan seseorang, semakin dia tidak perlu meresikokan diri.
Tetapi, mereka yang paling memerlukan keberanian untuk mengambil resiko,
justru yang paling dikerdilkan oleh rasa takut.

2. Anda harus memberi banyak, untuk berhak mengharapkan menerima banyak.
Mereka yang kikir, tidak akan pernah mengerti paradox ini.
Tetapi, kita mengerti bahwa nilai diri kita dibangun oleh nilai kontribusi kita kepada orang lain.

3. Kasih sayang tidak mengenal dirinya, sampai saat-saat terakhir perpisahan.
Bagi yang menyadari keniscayaan akan datangnya perpisahan;
sebuah kebersamaan adalah berkah yang harus disyukuri.



4. Orang-orang besar tidak pernah merasa besar.
Orang-orang kecil tidak pernah merasa kecil.

Itu sebabnya, kita sering melihat orang kecil yang sombong.
Tetapi, keadaan ini bisa berbalik sifat, mengharukan dan menyedihkan,
bila yang miskin bersyukur, dan yang kaya mengeluh.

5. Orang-orang besar membesarkan Anda. Orang-orang kecil, mengecilkan Anda.
Jangan ijinkan orang lain merendahkan Anda.
Orang kecil perlu menghibur diri dengan berusaha mengecilkan Anda. 

6. Seperti apa pun sulitnya sebuah perjalanan, akan selalu ada seseorang yang memaksa maju.
Seperti apa pun, mudahnya sebuah perjalanan, akan selalu ada seseorang yang mengeluh
dan berlambat-lambat di belakang.

Yang manakah Anda?

7. Mereka yang paling menginginkan pensiun, justru biasanya yang paling tidak siap untuk pensiun.
Mereka yang sangat siap untuk pensiun, justru tidak pernah ingin pensiun.

Yang manakah Anda?

8. Anak-anak yang paling tidak pantas menerima warisan, justru yang biasanya paling mengharapkan warisan.
Mereka yang paling pantas menerima, justru yang paling tidak mengharapkan.
Doa orang tua tidak akan turun dalam bentuk keberkahan bagi sang anak,
sampai doa orang tuanya yang menggantung di langit itu, dijemput oleh doa sang anak bagi orang tuanya.

9. Para bintang mencari kesempatan untuk berhasil,
tetapi akhirnya menciptakan lebih banyak kesempatan daripada yang ditemukannya.
Mereka yang lemah, bahkan bila diberikan kesempatan,
akan menolak karena semua kesempatan itu kelihatan seperti kerja keras.

Yang manakah Anda?

10. Setiap tahun, lebih banyak orang menjadi miskin, karena menghindari kelihatan miskin.
Mereka yang tidak khawatir dikira miskin, justru sering menjadi kaya.
Berhasil atau belum, adalah masalah waktu.
Maka isilah waktu Anda dengan yang penting.

11. Ketika takut kepada sebuah kejahatan, kita melarikan diri.
Tetapi bila kita takut kepada Tuhan, kita justru berlari mendekat.
I am + God = Enough


 (disadur dari MGTW)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More