Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
[Adz-Dzaariyat (51) ayat: 56]
Mulailah dengan kesadaran bahwa kehadiran Anda di kehidupan ini PASTI untuk sesuatu yang penting.
[Mario Teguh]

Rabu, 11 Maret 2009

Konsisten untuk Komitmen

Sulitkah berbuat sesuai dengan apa yang dikatakan? Bingung juga. Tidak mudah untuk mengakui hal itu. Asumsikan saja bahwa berbuat sesuai dengan apa yang dikatakan memang sulit. Saya sendiri menyadarinya. Konsisten adalah sebuah tantangan yang muncul dari diri sendiri untuk mewujudkan apa yang dikatakan atau ditekadkan dengan perbuatan/tindakan (kata Abd.Gifar).

Istilah 'tantangan' dipandang cocok oleh saya untuk mewakili makna konsisten. Tak berlebihan rasanya, mengingat bicara itu lebih mudah daripada berbuat. Tenaga atau energi yang dikeluarkan otot untuk bicara lebih kecil dibanding energi atau tenaga untuk bergerak karena otot yang terlibat lebih banyak. Bel tanda dimulainya duel antara "si ucapan" dan "si perbuatan", berbunyi saat "si ucapan" mulai berkoar menantang "si perbuatan" untuk membuktikan.

"Buktikan apa yang kau katakan!", nampaknya cocok dijadikan slogan bentuk konsisten yang saya maksud. Artinya banyak pembuktian yang menanti di balik setiap perbuatan. Pembuktian sebagai jawaban tantangan yang keluar dari diri sendiri.


Hal ini baru saat ini tersadari. Entah berapa ucapan yang keluar begitu saja tanpa merasa harus dibuktikan. Ucapan-ucapan yang bernuansa tekad itu tak dianggap tantangan yang sekali lagi harus dibuktikan. Cenderung merasa,"Ya kalau gak bisa, ya sudah". Malah parahnya kadang suka lupa kalau saya itu sudah berucap apa. Bahaya bila ucapan itu keluar seenaknya tanpa merasa harus dibuktikan.

Ucapan-ucapan atau bentuk ketekadan itulah yang mungkin biasa disebut komitmen. Menjaga komitmen untuk tetap konsisten itulah yang selama ini dirasa sulit. Titik paling parahnya bisa berbentuk lupa sudah berkomitmen atau lupa komitmennya apa. Sebenarnya memang tidak ada parameter tingkat 'keparahan', jadi bila sudah tidak konsisten dengan komitmen tetap saja itu suatu inkonsistensi.

Apa yang bahaya dari inkonsistensi ini? Salah satunya adalah pudarnya kredibilitas sebagai personal atau bahkan sebagai makhluk (ciptaan khalik). Kredibilitas atau keterpercayaan ini tidak ternilai harganya. Bila sudah dipercaya, segalanya menjadi mudah bagi orang. Bila sebaliknya, "cacat" itu akan lama tersembuhkan. Sulit bagi orang untuk percaya kembali bila pernah (mantan) dipercaya. Lebih tinggi lagi tingkatannya bila berbicara kredibilitas di mata Sang Khalik. Sudah tergolong dosa bila seseorang berbicara ia berbohong, bila berjanji ia ingkar, bila diberi amanat ia khianat. Tiga ciri tersebut yang menunjukkan seorang yang munafik. Salah satu dosa yang tak terampuni. Jangan bicara apa itu dosa dan pertanyaan-pertanyaan skeptis lain yang hanya menjurus pada penentangan, karena saat ini Sang Khalik sedang melihat dan nyawa kita ada di tangan-Nya.

Saatnya semakin menyadari bahwa diri ini sudah terlalu banyak berkomitmen. Umbar komitmen di sana-sini. Yang perlu digalakan adalah mulai membuktikan komitmen itu. Komitmen saya di dunia ini cukuplah hanya satu untuk yang Satu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More