
Menakjubkan! Satu kata untuk mewakili penyelenggaraan Moviekom 2013 yang masuk tahun kedua ini. Antusiasme penonton yang sebegitu besar dari kalangan (mayoritas) mahasiswa ini sudah barang tentu membahagiakan para pembuat film pendek yang masuk CC. Apa yang dicari pembuat film sih kalau bukan mendapat apresiasi dan filmnya tersampaikan kepada penonton?
Lalu bagaimana dengan film-filmnya yang berjumlah 12 film pendek? Memang konsep yang ditawarkan Moviekom yaitu pemutaran dan pemberian penghargaan kepada orang-orang "di balik layar", tanpa ada diskusi atau feedback dari penontonnya secara langsung selama acara. Sesuatu yang tidak atau mungkin belum menjadi sasaran dari penyelenggaraan Moviekom. Nyatanya, diskusi antara pembuat film dengan para juri atau tim penilai pun tidak masuk "menu utama" dalam penyelenggaraan Moviekom.

Atas dasar itu saya menulis ulasan atau review ke-12 film Moviekom untuk mewakili diskusi secara terbuka dengan seluruh anggota tim produksi. Dengan kerendahan hati karena menyadari ilmu masih dangkal dan pengalaman masih terbatas, saya memberikan komentar berdasarkan apa yang saya lihat dari 12 film. Urutan film yang saya bahas di bawah ini dengan disusun acak dan tidak menunjukkan urutan kualitas dari film-filmnya. Oke, siap? Mari kita mulai.

Serunya bikin film memang bisa merangkai-rangkai realitas dan tentunya dengan seriil-riilnya jika memang filmnya bukan fantasi atau beraliran surreal. Untuk mendapatkan sesuatu yang seriil-riilnya, pengalaman hidup si pembuat (filmmaker) jadi sangat berarti. Kalaupun tidak, adanya riset atau observasi, atau paling minimal penemuan (pernah melihat) jadi sesuatu yang sangat penting dalam membuat film agar film kita bisa diterima.
Penonton akan membentengi pikirannya akan pesan/kandungan film jika ada penyangkalan atas (satu/beberapa) realitas yang ditampilkan di dalam film. Belum apa-apa udah "kok gitu?". Bisa dibayangin kan? Atau pernah kan kita sendiri jadi penonton dan pikiran macam itu muncul ketika menonton. Soal observasi ini yang fatal dalam sebagian besar produksi film-film Moviekom 2013.
Penonton akan membentengi pikirannya akan pesan/kandungan film jika ada penyangkalan atas (satu/beberapa) realitas yang ditampilkan di dalam film. Belum apa-apa udah "kok gitu?". Bisa dibayangin kan? Atau pernah kan kita sendiri jadi penonton dan pikiran macam itu muncul ketika menonton. Soal observasi ini yang fatal dalam sebagian besar produksi film-film Moviekom 2013.
Pernahkah pembuat film melihat atau ditatariasi banci? Apakah banci salon berpenampilan seperti yang ditampilkan? Yang saya lihat justru lebih ke banci kaleng yang suka ngamen. Terlepas dari itu, artistik film ini untuk beberapa adegan sangat JUARA, contohnya adegan gorok leher yang memuncratkan darah. Itu terlihat sangat pro.
Sayang memang penataan darah yang jadi "mainan" dalam produksi film ini tidak nampol sepenuhnya. Ada beberapa adegan yang penataan artistik dan propertinya justru failed. Dan yang sangat mencolok adalah adegan penyayatan pipi yang mengeluarkan darah dengan mata pisau yang terbalik. Cinematographer kurang bijak dalam menentukan dan memilih shot.
Kebijaksanaan atau bisa disebut juga kepintaran dalam memilih angle dan shot yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan jadi sesuatu yang perlu dimiliki tim kamera di tengah keterbatasan produksi yang minim bugdet. Misalnya dalam film ini adalah pilihan tetap "menembak" pintu kaca yang menjadi pintu masuk orang yang masuk ke dalam salon. Terlihat cahaya lewat pintu kaca itu lebih terang daripada di dalam salon yang tanpa bantuan lighting pasti menimbulkan backlight. Semestinya shot itu bisa diganti angle lain yang tidak mengurangi maksudnya. Walau begitu, ada juga shot-shot menakjubkan (dalam artian pas mantap) pada film ini.
Terkait acting, saya memberikan salut untuk pemeran prianya yang berani jadi banci. Itu bukan kesehariannya kan? Hehehe... Cuma sayang saja pengaturan adegannya kurang maksimal sehingga beberapa adegan mengganjal dan potensi acting dari setiap cast yang ada di film ini kurang tereksplorasi. Yang saya soroti misalnya adegan penjeratan leher si wanita dengan tali oleh si banci ketika hendak kabur. Momentumnya hilang ketika si wanita melirik kiri-kanan duluan. Adegan semacam itu pernah saya lihat di film Asia berjudul DREAM HOME. Keselarasan adegan dan pengambilan gambar memang butuh keselarasan, karena itu sutradara itu mesti "kawin" dengan penata fotografinya (director of photography/DOP).
Oya satu hal lagi soal cerita yang mengganjal dan sebenarnya menjadi kunci dari film ini. Sebenarnya si wanita dan si lelaki sudah pacaran seberapa lama, sampai-sampai tahi lalat deket bibir gak ketahuan atau kurang tersadari saat membunuh..? Oke, mungkin memang si tokoh sebegitu kalutnya hingga tanda lahir tersebut terabaikan.
Terkait inkonsistensi, sedikit cacat memang hal yang lumrah dalam film produksi pertama karena namanya juga belajar. Kadang pas mantap, kadang aduh ampun. Apakah (bagian-bagian) yang bagusnya itu kebetulan ATAUKAH memang hasil perencanaan yang jika ada yang jelek itu hanyalah kehilafan? Kata kuncinya ada di perencanaan dan persiapan. Semakin matang perencanaan dan persiapannya, filmnya bisa jadi semakin berpeluang bagus.
Well...
Kebayang gak kalau satu film aja ulasannya udah sepanjang ini, gimana kalau udah 12 film. "Edduunn.." Terlalu memaksakan kalau di-satu-post-kan. Saya lanjut pembahasaan film lainnya di bagian berikutnya ya. Terus simak blog ini.
Semoga bermanfaat dan ada pembelajaran yang dapat diambil.
"Keep Rolling...!!!"
"CC! CC! CC! Action!"
0 komentar:
Posting Komentar