Phillip Kotler dan Hermawan Kertajaya serta Desi Anwar, mendengung-dengungkan turbulensi. Konteks perbincangan yang bertajuk Special Dialogue di MetroTv itu memang tentang marketing pada masa ini. Masa sekarang ini oleh dua pakar marketing itu disebut sebagai masa turbulensi (pergolakan). Mungkin maknanya dekat-dekat dengan kekacauan.
Selain dapat ilmu dari acara tersebut, saya pun dapat istilah baru: turbulensi. Saya langsung tergerak untuk menjadikannya salah satu label atau kategori untuk blog ini. Ada sebuah kategori yang sudah sering berganti istilah, mulai dari koreksi hingga reformasi. Namun, kedua istilah itu kurang mewakili posting yang berisi tentang pergolakan atau kegoncangan yang terjadi. Kiranya turbulensi adalah diksi yang tepat untuk dijadikan label posting seperti itu.
Di luar itu, saat ini Indonesia memang sedang memasuki masa turbulensi. Hal tersebut terindikasikan pada media. Di tengah masa kampanye capres yang menebarkan janji dan pesona, kasus rumah tangga beda negara antara Manohara dan seorang pria di Malaysia, sedang mengalami kemajuan berarti. Burung dalam sangkar emas kini telah terbang liar. Letupan kejutan tak hanya itu. Seorang ibu rumah tangga yang diseret oleh rumah sakit internasional ke dalam bui hanya karena curhat, ikut mencuri perhatian. Persoalan lainnya bahkan menyulut ketegangan, di antaranya yaitu singgungan antara Indonesia dan Malaysia tentang blok Ambalat. Ada kepentingan ekonomis yang menjadikan kedua negara tersebut kuat mengklaim batas negara masing-masing. Selain itu, percikan-percikan konflik pun timbul dari dalam. Kembalinya pergerakan Organisasi Papua Merdeka cukup mengkhawatirkan NKRI.
Bisa jadi itu hanyalah secuil problematika yang melanda negeri ini. Problematika yang dipandang cukup besar dan terekam oleh media massa hanya pada hari Sabtu kemarin.
"Indonesia sudah biasa dengan turbulensi," ujar Hermawan Kertajaya.
Jatuh Cinta Seperti di Film-film: Memilih Mawas, Menolak Malas
8 bulan yang lalu
3 komentar:
tengoklah sejarah, sejarah Indonesia barangkali sejarah turbulensi, hahaha, sejak belom merdeka pun,,,kita sudah sering mengalami turbulensi,,itu keniscayaan,,gerak materi yang dialektis histroris ceuk si mbah marx mah,,haha
proeltariawan priatna
yhaaa gifar padahal melihat dari judulnya, gw berharap lo menuliskan sesuatu ttg marketing atau philip kottler....
tapi ternyata tidak...hehe
_aisha_
begitulah kenyataannya proletariwan priatna.
Saya tahu kamu lebih tahu soal itu.
Makasih atas kesediaannya memberi komentar tulisan ini. Terus ikuti blog ini.
Saat ini saya belum cukup bekal untuk membahasnya Mbak Aisha. Ke depan, saya akan coba menuangkannya. Kurang "afdol" bila saya hanya sebatas mengulas acara yang ditayangkan MetroTV itu sebelum saya aplikasikan atau setidaknya saya cerna terlebih dahulu.
Terima kasih sudah bersedia untuk memberi komentar. Ikuti terus blog ini.
Posting Komentar